Jual Beli yang Diperbolehkan dalam islam

Jual beli yang tidak dilarang oleh agama Islam adalah jual beli yang dilakukan dengan kejujuran, tidak ada kesamaran ataupun unsur penipuan. Kemudian rukun dan syaratnya terpenuhi, barangnya bukan milik orang lain, dan tidak terikat dengan khiyar lagi. Yang termasuk kategori ini adalah jual beli barang yang tidak ada larangan nash, baik al- Qur’an maupun hadits.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa yang termasuk jual beli yang dilarang oleh Islam adalah jual beli sesuatu yang tidak ada barangnya, jual beli yang mengandung penipuan (gharar), jual beli najsy atau tanajusy dan menjadi tengkulak. Sedangkan jual beli yang diperbolehkan ialah  jual yang terpenuhi syarat-syarat sesuai dengan ketentuan Islam, tidak ada unsur penipuan di dalamnya, barang yang diperjualbelikan miliknya sendiri. 



Ada beberapa macam atau jenis jual beli jika ditinjau dari beberapa segi, misalnya:pertama, ditinjau dari segi pelaksanaannya yang terbagi menjadi:

  1. Jual Beli yang Dilarang
  2. Jual Beli yang Diperbolehkan
Kedua, ditinjau dari segi barangnya. Ditinjau dari segi objek atau barangnya jual beli dapat dibedakan menjadi:

  1. Jual beli al-sharf, yaitu jualbeli mata uang yang beredar di pasaran.
  2. Jual beli al-muthlaq, yaitu jual beli barang dengan uang secara mutlak.
  3. Jual beli al-salam, yaitu menjual sesuatu yang tidak bisa dilihat zatnya, tetapi sifat dan bentuknya telah ditentukan dan tanggungan ada pada penjual.
Ketiga, ditinjau dari harganya. Dapat dibedakan menjadi beberapa macam, seperti:

  1. Jual beli musawamah, yaitu jualbeli yang sudah disepakati harganya oleh kedua belah pihak dan pembeli telah melihat barang yang dibelinya sehingga tidak menimbulkan fitnah antara keduanya.
  2. Jual beli murabahah, yaitu menjual barang dengan harga yang lebih dari harga semula (mengambil keuntungan).
  3. Jual beli al-jauliyah, yaitu menjual barang dengan harga yang sama dari harga pengambilan.
  4. Jual beli al-wadhi’ah, yaitu menjual barang dengan harga yang lebih murah dari harga pengambilannya.
Keempat, ditinjau dari segi hukumnya. Hukum jual beli dapat dilihat dari beberapa aspek sehingga menjadi:

  1. Mubah, misalnya jual beli sesuatu sekadar memenuhi kebutuhan yang sifatnya sekunder atau tersier.
  2. Wajib, karena keadaan mendesak seperti kebutuhan mendapatkan makanan dan minuman untuk menjaga kondisi agar terhindar dari penyakit.
  3. Sunnah, misalnya seseorang telah berjanji untuk menjual barang perniagaan dan di dalamnya tidak ada unsur penipuan.
  4. Haram, seperti jual beli barang yang memang diharamkan.
Kelima, ditinjau dari segi pelaksanaan pembayarannya. Aspek ini ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Pembayaran kontan, yaitu uang atau barang tersebut diberikan secara bersama-sama dengan didahului kesepakatan kedua belah pihak.
  2. Pembayaran ditangguhkan, yang sifatnya seperti hutang atau juga dengan cara mengangsur atau kredit.
Keenam, ditinjau dari segi pelakunya. Pelaku jualbeli dapat dibedakan menjadi dua:

  1. Jual beli yang penawaran dan pembayarannya dilakukan langsung oleh penjual dan pembeli.
  2. Jual beli yang penawaran dan pembayarannya dilakukan melalui perantara (broker).
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa macam-macam jual beli dapat ditinjau dari beberai segi, yaitu dari segi pelaksanaannya tebagi pada jual beli yang dilarang dan jual beli yang diperbolehkan. Ditinjau dari segi barangnya dibagai pada; jual beli mata yang yang beredar di pasaran, jual beli barang barang dengan uang secara mutlak dan jual beli salam(pesanan).

Share on Google Plus

About Farah Hidayatul

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment