Mau tau Cerita Tentang Pasangan Hidup Tuan Kenari ?? Yuk Silahkan Dibaca...

Tuan Kenari Nyonya Suruh
Dan Lelaki Pinang.
  
      “Aku  tak  pernah  menyukai   suruh  pinang.  Bukan  karena  rasanya,  melainkan warna  merah  itu  selalu  mengingatkan  aku  pada  sesuatu  yang  menyakitkan”.  Katamu  selalu  setiap  kita  pergi  kepasar  membeli  suruh  pinang.
       Aku  juga  tidak  menyukai  surih  pinang.  Kupikir,  dijaman  seperti  sekarang.  Bukanlah  hal  aneh  bila  tidak  ada  menyukai suruh pinang kecuali segelintir orang yang sudah berusia lanjut, orang-orang yang merupakan sisa-sisa orang yang telah lalu, orang-orang yang gagap menghadapi perubahan zaman dan berpura-pura hidup dizaman ketika mereka masih giat dan sanggup menghadapi zamannya.Dan salah satu dari orang-orang sisa zaman lalu itu adlah nenekku.

      Semenjak aku masih berumur sepuluh tahun, Nenekku itulah yang merawatku. Kedua orang tuaku meninggal padasuatu kecelakaan lalu lintas. Dan sepanjang ingattanku yang tentunya terbatas , kedua orangtuaku tidak pernah bertengkar. Mereka adalah pasangan paling akur jangankan bertengkar sampai membanting gelas sampai memecahkan kaca aja seperti adegan sinetron aja tidak pernah , Dan kenangan perihal kerukunan mereka itu terdapat penguatan dari cerita-cerita nenekku. Lalu sering bertambahnya usia ketika tibanya aku mengalami jatuh cinta yang bukan cinta monyet , Cinta yang ingin aku pelihara dengan hubungan pernikahan, nenekku berpesan.” jagalah baik-baik cintamu seperti mencintai orangtuamu menjaga cinta mereka, cinta yang mereka bawa hingga meninggal ”.
     Dan sepanjang ingatanku pula nenek senantiasa menceritakan hal tersebut sambil mengunyah suruh pinang . Bibir nenek begitu merah begitu pula giginya . Dan itu merupakan pengaruh suruh pinang yang dikunyahnya. Namun sekali pun giginya berwarna merah hingga usia menginjak tujuh puluh tahunan gigi nenek masih utuh . Tak berkurang satu pun dan menurut nenek pula tak pernah sekalipun nenek pergi kedokter gigi karena tak pernah sakit gigi.
     Nenek tinggal dikampung sendirian semenjak aku sudah menikah dan pindah kekota kecamatan yang lebih ramai. Kakek sudah meninggal jauh sebelum orang tuaku meninggal. Dan aku tidak memiliki keingatan sedikit pun tentang kakek. Bahkan muka kakek pun ketauan dari selembar kertas foto putih hitam yang berukuran cukup besar yang dipigura nenek yang digantung diruang tamu rumahnya. Aku tahu nenek merasa kesepian. Aku saudah beberapa kali mengajaknya ikut kami pindah ke kota kecamatan yang lebih dekat dengan tempat kerjaku. Namun nenek selalu menolak dengan alasan menjaga kenangan yang ditinggalkan kakek di rumah tuanya. Orangtua selalu begitu,bukan? Dan pada akhirnya, karena capek terus-terusan mengajaknya pindah tapi selalu beliau tolak,aku tidak lagi pernah mengajaknya. Namun hampir setiap minggu,ketika kerjaku libur,aku selau menyempatkan diri mengunjungi nenek. Tentu saja sambil membawkan beliau suruh dan pinang yang dijual orang dipasar kecamatan. Aku tahu , istriku selalu enggan bila ku ajak mengunjungi nenek. Dan alasanya selalu sama” Aku tidak suka dengan warna merah yan dihasilkan pinang itu. Selalu mengingatkanku pada sesuatu yang menyakitkan.”   “ Ah itu Cuma perasanmu saja. Yang menyakitkan itu merah darah,bukan merah suruh pinang.” Kataku pada suatu ketika mencoba menghilangkan ketidaksukaan warna merahnya pada suruh pinang itu. “Tidak. Aku tahu itu bukan darah, namun tetap saja aku merasa bahwa suruh pinang itu merasakan kesakitan. Entahlah.”  Istriku memang pandai berkelit.
       Namun sesungguhnya, bukan hanya istriku yang enggan bertemu nenek. Nenek sendiri, awal-awal aku mengenalkannya padaistriku jugs menyatakan keberatannya pada pilihanku.” Apakah kau yakin dengan perempuan itu?” demikian dulu nenek bertanya.
       “ Tidak pernah saya seyakin ini nek”,  jawab mantab aku waktu itu.  “ Apa kau sudah benar-benar mengenalnya? Atau tidak adakah prempuan yang lebih baik dari dia?”  nenek mengejar. Dan aku merasa ada yang salah dengan nenek.
       “Aku kira dia bukan perempuan yang cocok denganmu,”  nenek menambahkan kalimatnya. Dan kalimatnya yang terakhir itu mambuatku terlonjak dari tempat duduk. Apa maksud nenek? Dan sebagai orang yang tengah dimabuk cinta, dengan sengit aku berkata. ” Tidak ada! Saya lebih memilih mati dari pada tidak bisa bersama dia!”.
       Dan nada yang dengan masih tinggi, aku kembali bertanya.” Kenapa nenek berkata sepertri itu? Apa nenek tahu siapa dia? Bukankah saya yang meninggalkannya kepada nenek? Dan, rasanya sayalebih mengenal dia dari pada nenek!”.
      “ Aku ini orang tua. Dan orang tua kadang kala lebih peka dari pada orang muda karena orang tua lebih anyak pengalaman. Aku hanya merasa saja, Aku merasa dia tidak cocok untukmu,” nenek berkata dengan tetap kalem. Nenek tersenyum. Dan terliht giginya yang merah. Kembali ia mengunyah suruh pinangnya.
      “ Hanya bedasarkan perasan nenek saja?itu penjelasan yang tidak masuk akal!”  aku kembali menghardik. Aku benar-benar marah waktu itu.
      “ Banyak hal didunia ini yang memang tidak bisa dijelaskan. Dan memang lebih baik dijelaskan”  nenek berkata dengan nada yang masih kalem.
      Aku meninggalkan nenek dengan hati yang mangkel. Pintu kubanting dengan kerasnya. Dan aku tau nenek terkejut melihat reaksiku. Selama seminggu aku mendiamkan nenek. Aku merasa tersiksa sebenarnya dengan hal itu. Namun aku akan lebih tersiksa sebenarnya dengan hal itu. Namun aku akan lebih tersiksa seandainya aku mendengarkan omongan nenek yang meragukan perempuan pilihanku. Tapi pada hari kedelapan, nenek mendatangiku dan terus berminta maaf. Nenek bilang merestui pilihanku. Dan mendoakan pernikahanku akan langgeng. Akan bahagia dan selamanya akan rukun seperti pernikahan orangtuaku. Kami berpelukan lama. Dan tak dapat kutahan airmataku. Airmata bahagia. Dan sangat bahagia. Sebulan kemudian aku melangsungkan akad nikah dengan perempuan pilihanku. Dan pada waktu itu, aku melihat nenek menangis. Tapi aku berusaha untuk tidak memikirkan peristiwa menagisnya nenek. Aku tidak mau merusak ahri bahagia dipernikahanku. Dan kemudian, ketika ternyata memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu teramat sulit aku menanamkan keyakinan pada diriku sendiri bahwa nenek menangis karena bahagia yang begitu besar karena pada akhirnya aku menikah.
      Semenjak aku menikah dan bila menjenguknya selalu sambil membawakan suruh pinang. Nenek menjadi kerap bercerita tentang suruh. “ Tahukah kalian bila ada tumbuhan lain yang mendapat julukan suami suruh dan itu bukanlah pinang?”  demikian nenek memulai ceritanya.
      Tentu itu hal yang aneh. Dimana-mana, dimasyarakat mana pun, suruh selalu dekat dengan pinang. Dan kini, bagaimana mungkinn tumbuhan yang dapat julukan seperti itu dan tumbuhan itu bukanlah pinang?.
      “ Orang0-orang dulu percaya bahwa , bila ada seseorang yang menanam suruh, maka dia akan mesti menanam  pula pohon kenari disebelah rambaanan suruh. Namun banyak pula orang yang percaya bahwa menanam pohon suruh namun tanpa menanam pohon kenari akan berakibat buruk , semisal pohon uruh itu tidak akan bisa tumbuh subur,”   demikian nenek bercerita.
       “ Tapi benarkah seperti itu?”  Aku bertanya penasaran.
       “ Hehehehehe….”  Nenek terkekeh. Menyumpulkan suruh,pinang, dan kapur dalam mulutnya. Mengunyah dengan nikmat, lalu kembali bercerita  ” Aktu tidak tahu. Tapi kenyataanya, banyak orang khusunya orang dijaman sekarang menanam suruh tanpa menanam pohon kenari di sebelah tanaman suruh itu dan ternyata suruh itu tetaap tumbuh dengan baik.”   “ Namun inti dari cerita itu sebenarnya, Janganlah kalian seperti suruh. Suruh itu mengkhianati suaminya, pohon kenari itu, untuk bersama dengan pinang. Dan kalian tahu kan bagaimana ujung percintaan pinang. Dan kalian tahu kan bagaimana ujung percintaan suruh dan pinang? Berakhir di mulut orang sepertiku dan berdarah darah kesakitan. Padahal kalau dia tetap bersetia dengan pohon kenari, Dia bisa memanjat tinggi, seiring tingginya pohon kenari.”  Nenek mengakhiri ceritanya. Dan aku tiba tiba teringat orangtuaku. Disampingku, isitriku Mnggut-manggut. Dan dari ekspresi wajahnya, aku tahu ia masih merasa tidak suka melihat nenek mengunyah suruh pinang.
       Bagaimana aku bisa melupakan hari itu? Hari buruk dalam hidupku. Jauh lebih buruk hari dimana kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Aku pulang kerja dan tak mendapati istriku dirumah menunggu seprti biasanya. Kukira selama ini hubunganku dengan istriku baik-baik saja. Dan dia juga tidak pernah menunjukan gelagat yang aneh-aneh. Sungguh, aku tak bisa mengerti bagaimana dia bisa melakukan perbuatan semacam kepadaku.
        Hanya ada selembar kertas bertulisan tangannya dimeja ruang tamu. Yang bertulisan : “ maaf aku harus pergi dengan semacam ini. Aku tahu aku tak sanggup menyatakannya langsung kepadamu. Karena itulah aku menulis suratin, aku telah menjalani hubungan oleh seseorang laki-laki yang bertemu dipasar kecamatan. Dan bila kau pergi kerja, dia selalu menemaniku. Aku mencintainya. Lebih dari aku mencintaimu. Dan aku memutuskan untuk meneruskan hidup/berhubungan dengannya. Sekali lagi maaf. Salam untuk nenek. Semoga kau bahagia dengan perempuan yang kau cintai nanti dan yang kau sayangi . Aku minta maaf aku harus pergi.”
        Seluruh tulang ditubuhku serasa dilolosi membaca surat itu. Dan tiba-tiba, aku mengingat cerita nenek. Aku merasa akulah situan kenari. Istriku nyonya suruh, dan leleki yang ditemuinya dipasar kecamatan itu adalah lelaki pinang.
        “ Tapi siapakah yang akan menjadi nenek? Siapa yang akan mengunyah dan mengakhiri riwayat mereka yang sakitnya begitu pedih?”. Aku bergumam. Entahlah kepada siapa.
          Dan pada akhirnya aku sangat menyesal dan sangat merasa sangat bersalah sudah tidak mendengarkan nenekku berbicara , sepertinya saya kualat terhadap nenek dan saya ingin minta maafa lebih kepada nenek dan aku tidak ingin mengecewakan neneku lagi dan aku tidak akan meninggalkan nenekku lgi , dan pada akhirnya aku dan nenek tinggal satu rumah dan aku ingin membahagiakan nenek dan inginn mendengarkan nenek tentang / soal perjodohan dan perempuan yang baik untuk nenekku.
         Dan tidak lama  aku dijodohkan oleh cucu dari teman  nenekku , seorang temen dekat pada saat dulu dia kecil dan sampe sekarang Alhamdulillah masih bertemu dirumah aku , cucu dari taman nenekku ini yang bernama “ Mutiara Lestari Handayani” yang berumur lebih muda setahun dari aku yaitu “ 25 tahun” , tidak lama kemudian aku melamar wanita yang bernama Mutiara itu , nenekku berkata “ Jagalah dia nak dan dialah wanita yang cocok untuk seumur hidupmu , dia adalah seorang wanita yang soleh, bisa membawa keluarga kita masuk kesyurga (aminn) , jagalah dia dan jangan sakiti dia” . dan aku takjub mendengar nenek bebicara , lalu aku berkata kepada nenekku “ Iya nek aku pasti jaga dia dan selalu mencintainya seperti aku mencintai nenek dan aku ingin aku dan dia seperti orangtuaku dahulu selalu saling percaya diri dan sayang seperti ayahku menyayangi ibuku dahulu”. Iya nak nenek percaya kepada kamu dan nenek sangat mendoakan kalian untuk kalian selalu bersama .

            Dan pada akhirnya aku dan dia menikah dan mempunyai anak 2 yang pertama anak laki-laki dan yang kedua perempuan , aku sangat sayang kepada anak-anakku dan istriku , Dan yang perempuan pertama yang aku nikahi itu juga sudah hidup bahagia dengan keluarganya.



***
Share on Google Plus

About arya Firmansyah

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment