Indahnya Berhijrah

Aku ini adalah seorang lelaki remaja sama seperti lelaki remaja lain, yang aktifitasnya itu sekolah, main futsal, nongkrong, dan tahu sendirilah lelaki remaja itu seperti apa. Aku juga sama seperti yang lain pernah merasakan apa itu cinta, apa itu kasih sayang, dan apa itu hubungan pacaran. Tapi itu hanyalah menjadi sebuah kenangan dan menjadi pelajaran yang bisa kudapati dari seorang Dia.


            Aku adalah lelaki remaja yang berusaha mencintai Dia, dan bertahan untuk hubungan ini, saat satu tahun yang lalu kami memulai segalanya, memulainya dengan begitu sangat indah, begitu banyak kenangan yang sebenarnya tak pernah sedikit pun Aku lupakan, saat dirinya memberikan seribu kenyamanan dan sejuta kesejukan yang entah dengan cara apalagi aku harus bersyukur karena aku sangat bahagia bersamanya. Saat semuanya berjalan begitu indah, saat dia masih selalu ada untukku, saat aku merasa hanya dirinya yang selalu bisa mengerti apa yang aku mau, menghubungi ku saat aku mengkhawatirkannya, dan aku merasa hanya dirinya yang selalu memberikanku segudang bahkan segedung perhatian yang masih sangat jelas ku ingat.
***
Rasanya, begitu cepat waktu berlalu, banyak sekali kejadian kejadian kecil dan kenangan yang menurutku itu sangatlah indah dan ingin sekali aku ulangi. Tapi? Semuanya sudah berlalu dan menjadi sebuah kenangan yang tak berbekas, rasanya cukup berat harus terbiasa tanpa dirinya dan tentangnya, tepatnya tentang kita.
            Beberapa bulan yang lalu, banyak sekali kesepian yang ku rasakan, tak pernah lagi ku baca bbm ataupun pesan singkat darinya untukku, tak pernah lagi kudengar perhatiannya yang membuatku tersenyum sendiri, tak pernah kudengar sapaannya saat berjumpa denganku, tak pernah kudengar kata-kata dari bibir masnisnya yang merindukanku seperti yang sering kudengar dulu.
            Aku yang saat itu sama sekali tidak mengerti dengan semuanya. Namun, tidak dapat dipungkiri, perpisahan yang beralasan ataupun tidak beralasan sama-sama menimbulkan rasa sakit yang sama bukan? Meskipun banyak orang yang bilang cinta itu tanpa alasan, namun apakah berarti  perpisahan yang terjadipun tanpa alasan?
           
***

Aku yang saat itu masih sangat berharap hubungan ini masih tetap ada, tapi saat hari itu, saat dirinya berubah, entah apa yang membuat dia berubah hari demi hari tidak ada kabar darinya. Pesan-pesan singkatku pun tidak membuat dia tergerak untuk membalasnya.
            Hingga akhirnya dia pun membalasnya yang mungkin dia berpikir aku sangat mengkhawatirkan dirinya. “Iya, kenapa?” katanya dengan balasan yang begitu sangat singkat. Dengan cepat aku pun membalasnya “Ada apa dengan kamu? Kemana aja kamu akhir-akhir ini? Kenapa engga ada kabar?” “Maaf ya, aku kemarin-kemarin itu sibuk mengurus tugas sekolah.” jawabnya dengan lembut. Aku pun yang tau benar sikap dia dan tau benar karakter dia merasa curiga, tidak seperti biasanya jika dia sibuk dengan urusannya pasti sedikit waktu dia sempatkan untuk memberi kabar kepadaku. Lain halnya dengan ini, dia menjawab dengan alasan sibuk karena tugas sekolah.
            Dengan kecurigaan diriku ini, ku beranikan diriku untuk menanyakan kecurigaanku kepadanya “Kamu jujur dong sama aku, kamu kenapa? Aku merasa ada beda sama diri kamu, kamu berubah seperti menjaga jarak dari aku.” Dia pun hanya menjawab “Aku kenapa? Aku gapapa, aku merasa biasa aja.”
***
            Mulai saat aku pun berpikir kalau itu hanya kecurigaanku yang salah terhadapnya. Dia juga sudah mulai mau membalas pesanku walaupun aku masih merasa ada yang berbeda tidak seperti biasanya. Dia jarang sekali menanyakan sesuatu kepadaku, dan sangat jarang memberikan perhatian yang dulu sangat sering diucapkannya.
            Hari demi hari kujalani hubungan ini dengan kecurigaan terhadapnya namun aku tak berani membicarakannya kembali. Bahkan untuk mengembalikan sesuatu yang pernah kudapati, aku lebih sering untuk menanyakan keadaannya, lebih sering memberikan perhatian kepadanya, dan lebih sering menyemangati setiap kegiatannya.
***
Hingga suatu hari dia menanyakan sesuatu kepadaku “Kamu kenapa sampai sekarang masih bertahan? Padahal aku sering kali menyakiti kamu, aku udah berusaha cuek sama kamu. Dan kenapa kamu masih aja perhatian sama aku?” Aku heran mengapa dia bisa menanyakan itu kepadaku. Aku pun menjawab “Karna aku sayang kamu, aku mau semuanya kembali lagi kayak dulu, kita canda-candaan bareng, kita ketawa bareng, kita jalan bareng, makan bareng, bahkan kita pernah kehujanan berdua di jalan. Aku kangen perhatiannya kamu, disaat kamu ingatkan makan, disaat kamu ingatkan untuk ibadah. Aku kangen semuanya tentang kamu yang dulu pernah kamu kasih ke aku, kembali lagi kayak dulu ya.” “Apa kamu mau tau alasan aku begini?” dia pun bertanya lagi kepadaku. “Apa alasannya? Kenapa kamu bisa kayak gini?” akupun kembali bertanya. Beberapa menit kemudian dia menjawab “Aku ingin memulai diriku menjadi lebih baik lagi.” “Apa maksudmu?” tanyaku dengan cepat. Lama sekali aku menunggu dia mengetik untuk menjelaskan apa alasan dia bisa seperti ini. “Maaf ya, jujur aku sangat sayang sama kamu, aku ingin sekali bertahan dalam hubungan ini, tapi maaf. Apa kamu bisa mengerti posisiku sekarang ini? Aku rasa kita cukup sampai disini aku ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, bukannya di dalam Islam engga boleh untuk pacaran? Aku sangat takut, aku takut hubungan ini semakin lama, semakin banyak dosa yang kita miliki, aku engga mau kamu menerima dosa yang seharusnya kamu engga miliki, aku menyayangimu tapi tidak untuk sekarang. Aku yakin Allah pasti akan mempertemukan kita suatu saat nanti, ingat kalau jodoh itu pasti bertemu.”
            Ketika selesai membaca pesan yang panjang tersebut, air mataku tak dapat aku tahan layaknya air terjun dari atas tebing yang tak dapat terbendung lagi. Entah harus aku balas apa pesan ini. Aku tidak bisa menganggapnya egois jika sudah berhubungan dengan agama, aku tidak bisa menganggapnya jahat jika itu pilihan dia. Tapi, aku belum bisa menerima kenyataan ini, yang harus pergi dan membiasakan diri tanpa dirinya.
***
            Dengan rasa sedih yang ku terima aku masih tidak percaya dengan keputusannya, dan kembali bertanya kepadanya “Apa kamu yakin dengan ini?” Dia pun menjawab “Ketika kita hijrah menuju hal yang baik, pasti kita akan mendapatkan kebaikan. Aku percaya itu dan itu yang membuatku yakin dengan ini.”
            Jujur berat rasanya harus menerima kenyataan bahwa dia tidak akan lagi menyapaku lewat pesan singkatnya di setiap pagi hari, berat rasanya harus membiasakan diri untuk tidak lagi mendengar suaranya melalui telepon kita saat malam hari menjelang tidur, berat rasanya meyakinkan diriku bahwa kita tidak akan bertemu lagi, berat rasanya tidak lagi mendengar bawelnya dia, berat rasanya tidak mendengar suaranya yang lucu dan sangat khas itu, dan berat rasanya menerima kenyataan bahwa kita tak dapat melakukan hal yang romantis berdua.
***
            Aku yang saat itu tidak bisa berpikir positif dan bertanya-tanya “Apakah mungkin dia akan berubah lebih baik jika meninggalkanku karena Allah? Atau apakah ini hanya alasannya aja untuk pergi dari ku? Apakah ada orang lain dibalik ini? Ya Allah, berat sekali rasanya menerima kenyataan ini.”
            Aku pun memberanikan menanyakan sesuatu kepadanya lagi “Apakah kita masih bisa seperti dulu lagi? Walaupun kita tidak memiliki hubungan yang spesial seperti dulu. Jujur aku engga mau kehilangan kamu dan engga akan rela kalau kamu menjadi milik orang lain.” Dia tersenyum dan menjawab “Ubahlah dirimu menjadi yang jauh lebih baik.” Dengan cepat aku pun menjawab “Iya aku janji akan mengubah diriku menjadi yg jauh lebih baik.” Lagi-lagi dia tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya “Baguslah kalau kamu akan berusaha menjadi diri yang lebih baik. Ingatlah satu hal kalau lelaki baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik begitu sebaliknya. Jadi, jika kamu sudah menjadi lebih baik kamu tidak perlu takut untuk mendapatkan perempuan yang baik juga.” Dengan percaya diri aku menjawab “Aku yakin perempuan yang baik itu adalah kamu, kamu itu cantik, baik, berhijab, dan insyaAllah shalehah.” Dia pun tersipu malu dan menjelaskan kembali “Makasih ya, tapi yang harus kamu tau adalah aku yang sekarang belum tentu aku yang baik. Dan aku itu belum tentu jodohmu nanti. Banyak rahasia yang Allah miliki, dan banyak kebaikan yang Allah akan berikan kepada kita.”
***
            Banyak nasihat yang aku dapatkan dari dirinya, tapi aku masih tidak bisa menerima semuanya, dengan kemauan dia yang ingin pergi dariku. Sulit rasanya membiarkan dan melepaskan sesuatu yang sempat tergenggam. Terlalu indah kenangan yang kita lewati dan terlalu nyaman diriku bila berada didekatnya. Tidak bisa terpungkiri kalau aku sangat menyayanginya.
            Mungkin sejak saat itu hal yang paling sering ku lakukan ketika kepergiannya adalah menyibukan diriku dengan hal yang bermanfaat walaupun terkadang dia ada didalam pikiranku. Dengan ini aku berusaha membuktikan kalau aku bisa berubah atau berhijrah menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.
            Selalu ku ingat kata-katanya sehingga memotivasiku untuk menjadi yang lebih baik. Banyak hal positif yang bisa ku dapatkan ketika tidak lagi berpacaran seperti banyak waktu yang bisa ku luangkan untuk hal yang baik dan banyak waktu yang ku luangkan untuk teman-temanku dibandingkan dulu yang lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Dan sekarang ini aku lebih bisa menabung uang jajanku untuk keperluanku sendiri yang dibandingkan kalau disaat pacaran aku lebih sering menghabiskan uang jajanku untuknya, seharusnya dia  tahu dulu itu aku rela tidak jajan berhari-hari supaya bisa jalan berdua dengannya dan menghabiskan uangku dalam sehari.
***
            Suatu hari saat aku berjalan, dengan tidak sengaja aku dipertemukan dengannya aku melihatnya berjalan bersama temannya yang saat itu mereka saling tertawa. Senang aku melihatnya bahagia walapun bukan bahagia karenaku.
            Sejak saat itu aku mulai tahu kalau dia selalu berjalan melewati jalan itu bersama temannya jika ingin pulang ke rumahnya. Dikala aku merindukannya dengan sengaja aku berjalan melewati jalan yang selalu dilewatinya bersama temannya tersebut. Aku melakukan itu hanya sekedar ingin melepaskan kerinduanku yang amat menusuk hati. Entah dia melihatku atau tidak yang tepenting bagiku adalah Allah tahu aku disini selalu berusaha menjaga hati ini untuknya.
***
            Sampai akhirnya aku merasakan kerinduan yang tak dapat tependam lagi aku pun memberanikan untuk menghubunginya untuk sekedar basa-basi melalui pesan di telepon “Assalamualaikum, apa kabar kamu?” dengan waktu yang lumayan lama aku menunggu balasannya, dan akhirnya dia menjawab “waalaikum salam, alhamdulilllah baik.” Aku pun memberanikan untuk menjelaskan apa yang sering aku lihat belakangan ini “Aku sering melihatmu dan temanmu di jalan untuk menuju rumahmu dikala aku merindukanmu. Apa kamu melihatku juga?” dia menjawab “Iya aku melihatmu tapi hanya sekilas saja” “kamu melihatku? Tapi kenapa kamu tidak menegurku? Dan kenapa kamu tidak menoleh kepadaku?” tanyaku kepadanya. “Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu lakukan itu untuk melihatku?” dia pun balik bertanya. Bersegera aku menjawab “aku merindukanmu, maaf.” “apa kamu tahu hijab dari seorang perempuan itu adalah jilbab atau kerundung, lelaki pun sama memiliki hijab.” Dengan bingung aku bertanya “apa hijab lelaki itu?” “Hijab lelaki adalah menundukan pandangannya.” Jawabnya dengan jelas.
***
            Dengan kejadian saat itu aku semakin sadar kalau aku ini belum bisa jadi manusia yang lebih baik, dan tidaklah mudah menjadi lebih baik, semua itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Karna apa yang menurutku baik dan biasa saja belum tentu Allah menganggap itu baik. Dan apa yang aku menurutku tidak baik bisa saja Allah menganggap itu baik. Teringat dari kata-katanya waktu itu “Banyak rahasia yang Allah miliki.”

            Aku saat ini berusaha mungkin untuk mengubah diriku menjadi lebih baik, dengan mendekatkan diri kepada Allah dan mencintai Rasul-Nya. Untuk soal pasangan atau jodoh sekarang ini belum terpikirkan yang jelas adalah ketika kita baik kita juga akan mendapatkan yang baik. Dan jika dia jodohku aku sangat besyukur, jika bukan pun aku yakin aku akan mendapatkan yang jauh lebih baik, karena tulang rusuk itu tidak akan tertukar dan akan kembali kepada tubuh pasangannya.

Created by : Fandy Ramadhan
Sumber Image : Berani Berhijrah
Dikutip ulang oleh : Farah Hidayatul Afifah
Share on Google Plus

About Farah Hidayatul

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment