Hijab Punuk Unta? Apakah Boleh?

  Ukhty, berjilbab bukan hanya merupakan sebuah identitas untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi, jilbab adalah suatu bentuk perilaku taat kepada Allah Ta'ala. Wanita muslimah pasti tahu bahwa menutup auratnya dari pandangan mata yang bukan muhrimnya itu sangat diwajibkan. Adapun salah satu aurat yang harus dijaga dan ditutupi seorang wanita yakni pada bagian kepalanya, dengan berjilbab.


Dalam perkembangannya, berbagai macam gaya jilbab muncul untuk mempercantik penampilan. Banyak trending yang populer tentang berbagai macam gaya jilbab masa kini. Meski sudah menjadi kewajiban, namun memakai jilbab juga memiliki aturan-aturan.
Seperti dikutip melalui laman akhwatshalihah.net, ada cara mengenakan jilbab yang ternyata dilarang. Salah satu gaya yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan adalah memakai jilbab punuk unta. Pada bagian belakang kepala, sengaja dibuat tonjolan meninggi sehingga terlihat seperti punuk unta.

Parahnya, gaya ini justru menjadi tren dikalangan wanita muslimah masa kini. Padahal, memakai jilbab dengan adanya punuk unta ini tidak dibenarkan oleh agama.
Rasulullah bersabda tentang sebuah hadis :
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Dan maksud dari hadits tersebut adalah wanita yang mangatur rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan seperti punuk unta di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya. 

Dikutip ulang oleh : Farah Hidayatul
Share on Google Plus

About Panggih Jati Pratama

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment